📰 INFOGRAFIS APBDes DESA LAPE TAHUN ANGGARAN 2026 - Lape (06 Apr 2026) 📰 PROFIL DESA - Pengenjek (06 Apr 2026) 📰 Dari RT ke Kota: Jalan Nyata Menuju Bima yang BISA - Nae (06 Apr 2026) 📰 Launching Ekowisata Mangrove Sugian Berlangsung Sukses, Didukung Wahana Visi dan Dihadiri Sekda Lombok Timur - Sugian (05 Apr 2026) 📰 Cara Transfer OVO ke DANA Terbaru 2026, Mudah & Cepat! - Durian (02 Apr 2026) 📰 Cara Top Up GoPay dari BCA Terbaru 2026, Mudah & Cepat! - Durian (02 Apr 2026) 📰 Transparansi APBDes 2026, Desa Semamung Publikasikan Rincian Anggaran ke Masyarakat - Semamung (02 Apr 2026) 📰 Sejarah Singkat Desa Monta Baru - Monta Baru (02 Apr 2026) 📰 KUNJUNGAN CAMAT SEKONGKANG - Talonang Baru (01 Apr 2026) 📰 Ringankan Beban Masyarakat, 927 KPM Desa Batu Putik Terima Paket Sembako dari Pemda Kabupaten Lombok Timur - Batu Putik (31 Mar 2026) 📰 Indonesia Waspada BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem akibat Godzilla El Nino - Tanak Kaken (31 Mar 2026) 📰 RAT Koperasi Merah Putih Kalijaga Baru: Menuju Tata Kelola Mandiri dan Transparan - Kalijaga Baru (31 Mar 2026) 📰 Penerimaan BLT-DD TAHAP 1 - Moyo Mekar (31 Mar 2026) 📰 judul artikel - Penatoi (31 Mar 2026) 📰 RAPAT KOORDINASI TENTANG BATAS LAHAN DAN HEWAN TERNAK - Tatar (30 Mar 2026) 📰 Penyerahan Donasi Korban Kebakaran Kampung Sao, Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar - Sapugara Bree (30 Mar 2026) 📰 HALAL BI HALAL IDUL FITRI 1447 H - Talonang Baru (30 Mar 2026) 📰 HALAL BIHALAL KELUARGA BESAR PEMDES KUMBANG DIGELAR PENUH KEHANGATAN - Kumbang (30 Mar 2026) 📰 MUSYAWARAH DESA PEMBENTUKAN PANITIA TIM PENJARINGAN DAN PENYARINGAN KEPALA DUSUN DALEM LAUK & GONJONG DESA LENDANG NANGKA - Lendang Nangka (30 Mar 2026) 📰 Cara Menonaktifkan SMS Banking BRI Terbaru 2026, Mudah & Cepat! - Durian (29 Mar 2026) NTB Menuju Nol Kemiskinan Ekstrem 2027, Mampukah?
Foto Kegiatan

NTB Menuju Nol Kemiskinan Ekstrem 2027, Mampukah?

Tanggal: 30 Sep 2025

Kategori: Editorial

Post dari: Admin

Pantau SID | Pengentasan kemiskinan ekstrem telah menjadi salah satu fokus besar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Targetnya jelas: pada tahun 2027, tidak boleh ada lagi masyarakat NTB yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Target ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut martabat manusia—karena kemiskinan ekstrem adalah bentuk paling nyata dari ketidakberdayaan ekonomi.

Secara statistik, kemajuan memang terlihat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024, angka kemiskinan ekstrem NTB berada di level 2,04 persen, menurun dari 2,64 persen pada 2023. Penurunan ini menempatkan NTB pada posisi kedelapan secara nasional. Namun, penurunan angka tidak berarti tantangan telah usai. Sekretaris Bappeda NTB, Dr. Mahjulan, dengan jujur mengakui bahwa target nol persen pada akhir 2024 sebagaimana arahan Presiden Jokowi, belum bisa tercapai. Realistisnya, paling cepat 2025–2026, dan paling lambat 2027.

Ketimpangan Antarwilayah

Di balik angka rata-rata yang membaik, terdapat ketimpangan yang perlu mendapat perhatian serius. Lombok Tengah mencatat angka kemiskinan ekstrem terendah di NTB, hanya 0,72 persen. Sebaliknya, Lombok Utara masih berkutat di angka 5,79 persen, tertinggi di provinsi ini. Fakta ini menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem di NTB tidak seragam. Setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan sendiri yang menuntut solusi berbeda.

Pantauan Sistem Informasi Desa (SID) tahun 2025 memperlihatkan peta kemiskinan ekstrem yang lebih detail. Terdapat 106 desa/kelurahan miskin ekstrem dengan jumlah 44.013 individu miskin dan 16.876 kepala keluarga miskin. Sebagian besar beban ada di Pulau Lombok: Lombok Timur dengan 31 desa, Lombok Tengah 22 desa, Lombok Barat 18 desa, Lombok Utara 12 desa, dan Kota Mataram 7 kelurahan. Di Pulau Sumbawa, kondisi sedikit lebih ringan, dengan Kabupaten Sumbawa 12 desa, Kota Bima 1 desa, dan Kabupaten Bima 2 desa.

Data ini memberi pesan tegas: angka kemiskinan ekstrem tidak hanya hidup di tabel statistik BPS, melainkan berwujud nyata di desa-desa, di rumah tangga, bahkan di wajah-wajah warga yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Pantau SID dan Pentingnya Data Akurat

Salah satu kritik yang terus mengemuka adalah soal validasi data. Bagaimana mungkin program bisa tepat sasaran jika data penerima manfaat masih bias? Di sinilah hadirnya Pantau SID menjadi instrumen strategis.

Dengan mendorong seluruh desa di NTB menggunakan platform OpenSID sebagai Sistem Informasi Desa, terutama desa-desa miskin ekstrem, pemerintah bisa memantau kondisi secara online terlebih dahulu sebelum melakukan kunjungan atau monitoring lapangan. Melalui Pantau SID, data dapat ditarik secara real time, sehingga meminimalisasi risiko salah sasaran.

Bukan hanya itu, aplikasi ini juga memiliki fitur berita TV online dan slide berita, yang memungkinkan informasi desa ditampilkan secara transparan dan mudah diakses publik. Dengan demikian, pengentasan kemiskinan ekstrem tidak hanya menjadi urusan pemerintah, melainkan juga bagian dari partisipasi masyarakat yang lebih luas.

Lebih dari Sekadar Angka

Kemiskinan ekstrem didefinisikan oleh Bank Dunia sebagai kondisi ketika seseorang hidup dengan pengeluaran kurang dari 1,90 dolar AS per hari—sekitar Rp10.739 per orang per hari atau Rp322.170 per orang per bulan. Jika satu keluarga terdiri dari empat orang, maka keluarga itu masuk kategori miskin ekstrem bila pengeluarannya tidak lebih dari Rp1.288.680 per bulan. Angka ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.

Karena itu, pengentasan kemiskinan ekstrem tidak boleh dipandang sekadar “proyek pengurangan angka.” Ia adalah upaya memulihkan martabat warga, memberi ruang agar masyarakat miskin bisa keluar dari jerat keterbatasan, dan menciptakan generasi baru yang lebih berdaya.

Tantangan dan Harapan

Target NTB bebas kemiskinan ekstrem pada 2027 tentu bukan perkara mudah. Jalan menuju ke sana panjang dan terjal. Pemerintah harus memastikan konsistensi kebijakan, keberanian memperbaiki data, serta keseriusan dalam menyalurkan program yang benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.

Lebih dari itu, dibutuhkan sinergi lintas sektor: pemerintah daerah, desa, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil. Teknologi seperti Pantau SID dapat menjadi katalis, namun tetap saja kunci utamanya ada pada komitmen politik dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat miskin.

Karena pada akhirnya, di balik setiap persentase, di balik daftar 106 desa miskin ekstrem, dan di balik laporan yang terpampang di layar Pantau SID, terdapat manusia yang nyata. Mereka menunggu bukti, bukan janji. Mereka menanti perubahan, bukan sekadar data. Dan tugas kita bersama adalah memastikan, bahwa pada 2027 kelak, NTB benar-benar bebas dari kemiskinan ekstrem.

📄 Unduh Dokumen
Taufik: Mau buat profil desa, gimana? (Balasan Admin: Ok, Silakan) Zaenab: Mohon into link desa (Balasan Admin: desasmart.id/desa/index.php) Bang Adijaya: Mantap kulihat Pantau SID (Balasan Admin: Mohon Masukan bang) Anjas: Apa rungan (Balasan Admin: Khabar khair) RIO: Kirim (Balasan Admin: panya yang kirim, link ya) Aliando: Coba Dulu (Balasan Admin: Boleh Coba, Gratis koq) syamsuddin: saya lah (Balasan Admin: Ayo ngopi) Prof Jon Piter Sinaga: Mantap Pantau SID Karya Anak NTB (Balasan Admin: Trims Prof, Salam hangat Penuh hormat) Suwardi: Keren Pantau SID (Balasan Admin: Terima kasi bung, tetap semangat) Fatimah: Halo Apa Khabar Pantau SID?, Salam kenal (Balasan Admin: Baik Bu, silakan, apa yang bisa kami bantu)
💬 Pesan
Sampaikan Pesan ×